Friday, 10 June 2016

HUKUM QADHA DAN MEMBAYAR FIDYAH


HUKUM QADHA DAN MEMBAYAR FIDYAH
Siapa yang wajib mengqadha atau membayar fidyah dari orang yang boleh meninggalkan puasa?
1. Anak kecil
 Anak kecil jika sudah baligh maka ia tidak wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah atas puasa yang ditinggalkannya.
2. Orang Gila
a. Gila yang disengaja wajib meng-qadha saja dan tidak wajib mem-bayar fidyah.
 b. Gila yang tidak disengaja tidak wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah
3. Orang Sakit
a. Sakit yang masih ada harapan sembuh wajib mengqadha jika sembuh dan tidak wajib membayar fidyah.
b. Sakit yang menurut keterangan dokter sudah tidak ada harapan sembuh maka ia tidak wajib meng-qadha akan tetapi hanya wajib membayar fidyah setiap hari yang ia tinggalkan dengan 1 mud atu 6,7 ons diberikan kepada fakir miskin dengan makanan seperti beras.
4. Orang tua
Orang tua disamakan dengan orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.
Karena orang tua tidak akan kembali muda. Maka baginya tidak wajib mengqadha dan hanya wajib membayar fidyah 1 mud atau 6,7 ons diberikan kepada fakir miskin.
5. Orang musafir
Orang yang bepergian hanya wajib mengqadha saja dan tidak wajib mem-bayar fidyah.
6. Wanita hamil dan menyusui
Wanita hamil dan menyusui ada tiga macam :
a. Wajib mengqadha saja jika dia khawatir akan dirinya sendiri.
b. Wajib mengqadha saja jika dia khawatir akan dirinya sendiri sekaligus khawatir keadaan anak-nya
c. Wajib mengqadha dan membayar fidyah jika dia khawatir akan keselamatan bayinya dan tidak khawatir akan dirinya sendiri.
7. Wanita Haid
Wanita haid hanya wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah.
8. Wanita Nifas
Wanita Nifas hanya wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah.

MENUMBUHKAN KEDERMAWANAN


MENUMBUHKAN KEDERMAWANAN.
Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memberitakan bahwa suatu saat umat Islam akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa di sekitarnya seperti orang-orang lapar mengerumuni piring makanan.
Meskipun jumlah umat Islam saat itu banyak, tetapi kualitasnya seperti buih, karena di dalam hati mereka bersemayam penyakit wahn. Penyakit wahn itu didefinisikan oleh Rasulullah SAW sebagai “cinta dunia dan takut mati“.
Allah memberitakan bahwa karena cintanya yang amat sangat kepada harta dunia manusia menjadi bakhil.

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ


“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”
(QS. Al-’Aadiyaat: 8)

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah: manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta sehingga ia menjadi bakhil.

Padahal bakhil alias kikir itu merupakan sifat jelek dan syaitan selalu menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan menyuruhnya untuk berbuat kikir.


الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”
(QS. Al-Baqarah: 268).

Di dunia ini orang kikir dibenci oleh orang lain, bahkan oleh teman dan anggota keluarganya sendiri.
Islam mengajarkan kepada manusia untuk lebih mencintai akhirat dengan menegaskan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dari pada dunia.


وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.”
(QS. Adl-Dluha: 4).

وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A'laa : 17).


Sedangkan kehidupan dunia itu tiada lain hanya permainan dan sendau gurau belaka.


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
(QS. Al-An’am: 32).
Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal, janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.


Rasulullah SAW sendiri memberikan contoh langsung bagaimana cara untuk lebih mencintai akhirat dari pada dunia. Meskipun beliau menjadi kepala negara yang disegani dunia tetapi beliau hidup dengan sederhana, tidak pernah membangun istana dan menumpuk harta. Rampasan perang yang tidak ternilai jumlahnya semasa hidup beliau, semua dibagikan kepada umatnya, tidak beliau sisakan sedikitpun sebagai harta warisan.
Di mata sahabat beliau memberi sesuatu kepada sahabat seolah tidak takut miskin dan memang beliau tidak pernah takut. Bahkan kedermawanan beliau di bulan Ramadlan seperti ini digambarkan seperti angin yang berhembus.

Maka wajar kalau para sahabat yang berada di bawah asuhan beliau menjadi manusia-manusia yang lebih mencintai akhirat dari pada dunia, menjadi manusia-manusia yang dermawan. Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf merupakan beberapa sosok sahabat yang terkenal karena kedermawanan mereka.
Orang yang dermawan akan dicintai oleh keluarga, kerabat, sahabat, tetangga dan siapapun yang bersinggungan dengannya. Kedermawanan sangat bermanfaat untuk merajut hubungan hati sesama manusia, termasuk hubungan hati antara juru dakwah dengan sasaran dakwah.
Seorang juru dakwah yang dermawan akan dicintai oleh umatnya, didengar nasehatnya, dan diikuti petunjuknya. Seandainya semua umat Islam dengan puasa Ramadlan ini berubah sifatnya dari kikir menjadi dermawan, maka tidak akan ada umat Islam yang hidupnya miskin, papa dan sengsara.
Maka wajar kalau Allah menilai orang yang terbebas dari kekikiran dirinya termasuk orang yang beruntung.


وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr : 9)


Agar hidup kita lebih bermakna bagi orang lain dan agar diri kita menjadi orang yang beruntung, maka di hari-hari akhir bulan Ramadlan ini marilah kita hilangkan kekikiran jiwa dengan menumbuhkan kedermawanan.
Semoga kedermawanan yang tumbuh karena keimanan kepada Allah dan hari akhir akan menjadi sebab bagi Allah untuk mengampuni dosa kita dan mengaruniakan surga bagi kita semua.
Amin.

YANG MEMBATALKAN PUASA


10 HAL YANG MEMBATALKAN PUASA, DALAM KITAB FATHUL QARIB, BAB SHAUM


أحدها وثانيها (ما وصل عمداً إلى الجوف) المنفتح (أو) غير المنفتح كالوصول من مأمومة إلى (الرأس) والمراد إمساك الصائم عن وصول عين إلى ما يسمى جوفاً (و) الثالث (الحقنة في أحد السبيلين) وهو دواء يحقن به المريض في قبل أو دبر المعبر عنهما في المتن بالسبيلين (و) الرابع (القيء عمداً) فإن لم يتعمد لم يبطل صومه كما سبق. (و) الخامس (الوطء عامداً) في الفرج فلا يفطر الصائم بالجماع ناسياً كما سبق (و) السادس (الإنزال) وهو خروج المني (عن مباشرة) بلا جماع محرماً كان كإخراجه بيده أو غير محرم كإخراجه بيد زوجته أو جاريته واحترز بمباشرة عن خروج المني بالاحتلام فلا إفطار به جزماً (و) السابع إلى آخر العشرة (الحيض والنفاس والجنون والردة) فمتى طرأ شيء منها في أثناء الصوم أبطله


(1) Masuknya benda kedalam tubuh dengan sengaja melalui lubang yang terbuka (mulut, hidung, dan lain-lain), atau
 (2) melalui jalan yang tertutup, seperti benda yang masuk ke otak melalui kepala. Yang dikehendaki dalam hal ini adalah bahwa orang yang berpuasa mencegah sesuatu yang bisa masuk kedalam anggota tubuh.
 (3) Mengobati orang yang sakit melalui dua jalan (qubul dan dzubur).
 (4) Muntah dengan sengaja, namun apabila tidak disengaja maka puasanya tidak batal.
 (5) Bersetubuh dengan sengaja. Namun tidak batal apabila lupa (kalau sedang puasa).
 (6) Keluar mani karena bertemunya dua kulit (antara laki-laki dan perempuan)walaupun tanpa berjima’. Diharamkan apabila mengeluarkannya dengan tangan, namun tidak diharamkan seumpama dikeluarkan dengan tangan istrinya atau budaknya (tapi tetap batal). Pengarang kitab (mushannif) telah memisahkan apabila keluar mani disebabkan karena mimpi maka itu tidaklah batal.
 (7) Haid,
 (8) Nifas,
 (9) Majnun (gila),
 (10) Murtad.
 Maka, apabila salah satu dari yang disebutkan itu terjadi, batallah puasa seseorang.”

DALAM KITAB MATAN GHAYAH WAT TAQRIB

YANG MEMBATALKAN PUASA

والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء : ما وصل عمدا إلى الجوف أو الرأس والحقنة في أحد السبيلين والقيء عمدا والوطء عمدا في الفرج والإنزال عن مباشرة والحيض والنفاس والجنون والردة

Yang membatalkan puasa ada sepuluh, yaitu:
 1. Suatu benda yang sampai dengan sengaja ke dalam perut,
 2. Suatu benda yang sampai dengan sengaja ke rongga kepala,
 3. Suntik ke salah satu dua jalan (kemaluan depan belakang),
 4. Muntah dengan sengaja,
 5. Hubungan intim (jimak) secara sengaja di kemaluan wanita,
 6. Keluar mani (sperma) sebab persentuhan,
 7. Haidl,
 8. Nifas,
 9. Gila,
 10. Murtad (keluar dari Islam).

DALAM KITAB MATAN SAFINAH AN-NAJA

BATAL PUASA
فصل : يبطل الصوم : بردة ، وحيض ، ونفاس ، أو ولادة ، وجنون ولو لحظة ، وبإغماء ، وسكر تعدى به إن عمَّا جميع النهار
Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:
– Sebab-sebab murtad.
– Haidl.
– Nifas.
– Melahirkan.
– Gila sekalipun sebentar.
– Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

Tuesday, 7 June 2016

Nama - Nama Rasul Allah


Telah kita ketahui bersama bahwa nama-nama rasul yang wajib kita hafal dan ketahui ada 25. Sedangkan jumlah keseluruhan para rasul ada 313. Mungkin ini yang tidak banyak diketahui orang, yakni tentang nama-nama para rasul yang berjumlah 313.



Al-Alim al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (kelahiran Tanara, Serang, Banten tahun 1813 M dan wafat di Mekkah tahun 1897 M), dalam kitabnya yang berjudul ats-Tsamaru al-Yani’ah fi Riyadh al-Badi’ah menjelaskan:


فمن كتب اسمائهم ووضعهم فى بيته او قراها اوحملها تعظيما لهم وتكريما لذواتهم واحتراما لنبوتهم واستمدادا من هممهم العالية واستغاثة بارواحهم المقدسة سهل عليه امورالدنيا والاخرة وفتح عليه ابواب الخيرات ونزول الرحمة والبركات ودفع عنه الشرور , وقال صلى الله عليه وسلم حياتهم ومماتهم سواء فهم متصرفون في الارض والسماء.
 “Barangsiapa yang menulis nama-nama rasul dan meletakkannya di rumah atau membacanya atau membawanya dengan mengagungkan mereka, memuliakan keberadaan mereka, menghormati kenabian mereka, berharap dari keinginan mereka yang tinggi dan beristighatsah dengan ruh-ruh mereka yang suci, maka akan dimudahkan oleh Allah Swt. segala urusan di dunia dan akhirat. Dan akan dibukakan pintu-pintu kebaikan dan diturunkan rahmat, keberkahan serta menolak segala kejelekan. Rasulullah Saw. bersabda: “Hidup dan matinya mereka (para rasul) itu sama saja, tetap beraktivitas (hidup) di bumi dan di langit.”


والمشهور ان المرسلين ثلاثمائة وثلاثا عشر كما في حديث ابي ذر وهاهي اسماؤهم على ماروى عن انس : ادم , شيث, انوش, قيناق, مهيائيل, اختوخ, ادريس, متوشلخ, نوح, هود, عبهف, مرداريم, شارع, صالح, ارفخشذ, صفوان, حنظلة, لوط, عصان, ابراهيم, اسمعيل, اسحق, يعقوب, يوسف, شمائيل, شعيب, موسى, لوطان, يعوا, هرون, كليل, يوشع, دانيال, بونش, بليا, ارميا, يونس, الياس, سليمان, داود, اليسع, ايوب, اوس, ذانين, الهميع, ثابت, غابر, هميلان, ذوالكفل, عزير, عزقلان, عزان, الوون, زاين, عازم, هريد, شاذن, سعد, غالب, شماس, شمعون, فياض, قضا, سارم, عيناض, سايم, عوضون, بيوزر, كزول, باسل, باسان, لاخين, غلضات, رسوغ, رشعين, المون, لوغ,برسوا, الاظيم, رشاد, شريب, هيبل, ميلان, عمران, هرييب, جريت, شماع, صريخ, سفان, قبيل, ضعضع, عيصون, عيصف, صديف, برواء,حاصيم, هيان, عاصم, وجان, مصداع, عاريس, شرحبيل, خربيل, حزقيل, اشموئيل, غمصان, كببر, سباط, عباد بثلخ, ريهان, عمدان, مرقان, حنان, لوحنا, ولام, بعيول, بصاص, هبان, افليق, قازيم, نصير, اوريس, مضعس, جذيمة, شروحيل, معنائيل, مدرك, حارم, بارغ هرميل, جابد, زرقان, اصفون, برجاج, ناوى, هزرابن اشبيل, عطاف, مهيل, زنجيل, شمطان, القوم, حوبلد, صالح, سانوخ, راميل, زاميل, قاسم, باييل, بازل, كبلان, باتر, حاجم, جاوح, جامر, حاجن, راسل, واسم, رادن, سادم, شوشا, جازان, صاحد, صحبان, كلوان, صاعد,غفران, غاير, لاحون, بلدخ, هيدان, لاوى, هيراء, ناصى, حانك, حافيخ, كاشيخ, لافث, نايم, حاشم, هجام, ميزاد,اسيمان, رحيلا, لاطف, برطفون, ابان, عورائض, مهمتصر, عانين, نماخ, هندويل, مبصل, مضعتام, طميل, طابيح, مهمم حجرم, عدون, منبد, بارون, روان, معبن, مزاحم, يانيد, لامى, فردان,جابر, سالوم, عيص, هربان, جابوك, عابوج, مينات, قانوح, دربان, صاخم, حارض, حراض, حرقيا, نعمان, ازميل, مزحم, ميداس, يانوح, يونس, ساسان, فريم, فريوش, صحيب, ركن, عامر, سحنق, زاخون, حينيم, عياب, صباح, عرفون, مخلاد, مرحم, صانيد, غالب, عبدالله, ادرزين, عدسار, زهران, بايع, نظير, هورين, كايواشيم, فتوان, عابون, رباخ, صابح, مسلون, حجان, روبال, رابون, معيلا, سايعان, ارجيل, بيغين, متضح, رحين, محراس, ساخين, حرفان, مهمون, حوضان, البؤن, وعد, رخيول, بيغان, بتيحور, حوظبان, عامل, زحرام, عيس, صبيح, يطبع, جارح, صهيب, صبحان, كلمان, يوخى, سميون, عرضون, حوحر, يلبق, بارع, عائيل, كنعان, حفدون, حسمان, يسمع, عرفور, عرمين, فضحان, صفا, شمعون, رصاص, اقلبون, شاخم, خائيل, احيال, هياج, زكريا, يحيى, جرجيس, عيسى بن مريم, محمد صلى الله عليه وسلم عليهم اجمعين .
 “Dan menurut pendapat yang masyhur, sesungguhnya para rasul itu berjumlah 313, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dzar Ra. Dan inilah nama-nama rasul itu seperti yang diriwayatkan dari sahabat Anas Ra.:



1. Adam As.
 2. Tsits As.
 3. Anuwsy As.
 4. Qiynaaq As.
 5. Mahyaa’iyl As.
 6. Akhnuwkh As.
 7. Idris As.
 8. Mutawatsilakh As.
 9. Nuh As.
 10. Hud As.
 11. Abhaf As.
 12. Murdaaziyman As.
 13. Tsari’ As.
 14. Sholeh As.
 15. Arfakhtsyad As.
 16. Shofwaan As.
 17. Handholah As.
 18. Luth As.
 19. Ishoon As.
 20. Ibrahim As.
 21. Isma’il As.
 22. Ishaq As.
 23. Ya’qub As.
 24. Yusuf As.
 25. Tsama’il As.
 26. Su’aib As.
 27. Musa As.
 28. Luthoon As.
 29. Ya’wa As.
 30. Harun As.
 31. Kaylun As.
 32. Yusya’ As.
 33. Daaniyaal As.
 34. Bunasy As.
 35. Balyaa As.
 36. Armiyaa As.
 37. Yunus As.
 38. Ilyas As.
 39. Sulaiman As.
 40. Daud As.
 41. Ilyasa’ As.
 42. Ayub As.
 43. Aus As.
 44. Dzanin As.
 45. Alhami’ As.
 46. Tsabits As.
 47. Ghobir As.
 48. Hamilan As.
 49. Dzulkifli As.
 50. Uzair As.
 51. Azkolan As.
 52. Izan As.
 53. Alwun As.
 54. Zayin As.
 55. Aazim As.
 56. Harbad As.
 57. Syadzun As.
 58. Sa’ad As.
 59. Gholib As.
 60. Syamaas As.
 61. Syam’un As.
 62. Fiyaadh As.
 63. Qidhon As.
 64. Saarom As.
 65. Ghinadh As.
 66. Saanim As.
 67. Ardhun As.
 68. Babuzir As.
 69. Kazkol As.
 70. Baasil As.
 71. Baasan As.
 72. Lakhin As.
 73. Ilshots As.
 74. Rasugh As.
 75. Rusy’in As.
 76. Alamun As.
 77. Lawqhun As.
 78. Barsuwa As.
 79. Al-‘Adzim As.
 80. Ratsaad As.
 81. Syarib As.
 82. Habil As.
 83. Mublan As.
 84. Imron As.
 85. Harib As.
 86. Jurits As.
 87. Tsima’ As.
 88. Dhorikh As.
 89. Sifaan As.
 90. Qubayl As.
 91. Dhofdho As.
 92. Ishoon As.
 93. Ishof As.
 94. Shodif As.
 95. Barwa’ As.
 96. Haashiim As.
 97. Hiyaan As.
 98. Aashim As.
 99. Wijaan As.
 100. Mishda’ As.
 101. Aaris As.
 102. Syarhabil As.
 103. Harbiil As.
 104. Hazqiil As.
 105. Asymu’il As.
 106. Imshon As.
 107. Kabiir As.
 108. Saabath As.
 109. Ibaad As.
 110. Basylakh As.
 111. Rihaan As.
 112. Imdan As.
 113. Mirqoon As.
 114. Hanaan As.
 115. Lawhaan As.
 116. Walum As.
 117. Ba’yul As.
 118. Bishosh As.
 119. Hibaan As.
 120. Afliq As.
 121. Qoozim As.
 122. Ludhoyr As.
 123. Wariisa As.
 124. Midh’as As.
 125. Hudzamah As.
 126. Syarwahil As.
 127. Ma’n’il As.
 128. Mudrik As.
 129. Hariim As.
 130. Baarigh As.
 131. Harmiil As.
 132. Jaabadz As.
 133. Dzarqon As.
 134. Ushfun As.
 135. Barjaaj As.
 136. Naawi As.
 137. Hazruyiin As.
 138. Isybiil As.
 139. Ithoof As.
 140. Mahiil As.
 141. Zanjiil As.
 142. Tsamithon As.
 143. Alqowm As.
 144. Hawbalad As.
 145. Solih As.
 146. Saanukh As.
 147. Raamiil As.
 148. Zaamiil As.
 149. Qoosim As.
 150. Baayil As.
 151. Yaazil As.
 152. Kablaan As.
 153. Baatir As.
 154. Haajim As.
 155. Jaawih As.
 156. Jaamir As.
 157. Haajin As.
 158. Raasil As.
 159. Waasim As.
 160. Raadan As.
 161. Saadim As.
 162. Syu’tsan As.
 163. Jaazaan As.
 164. Shoohid As.
 165. Shohban As.
 166. Kalwan As.
 167. Shoo’id As.
 168. Ghifron As.
 169. Ghooyir As.
 170. Lahuun As.
 171. Baldakh As.
 172. Haydaan As.
 173. Lawii As.
 174. Habro’a As.
 175. Naashii As.
 176. Haafik As.
 177. Khoofikh As.
 178. Kaashikh As.
 179. Laafats As.
 180. Naayim As.
 181. Haasyim As.
 182. Hajaam As.
 183. Miyzad As.
 184. Isyamaan As.
 185. Rahiilan As.
 186. Lathif As.
 187. Barthofun As.
 188. A’ban As.
 189. Awroidh As.
 190. Muhmuthshir As.
 191. Aaniin As.
 192. Namakh As.
 193. Hunudwal As.
 194. Mibshol As.
 195. Mudh’ataam As.
 196. Thomil As.
 197. Thoobikh As.
 198. Muhmam As.
 199. Hajrom As.
 200. Adawan As.
 201. Munbidz As.
 202. Baarun As.
 203. Raawan As.
 204. Mu’biin As.
 205. Muzaahiim As.
 206. Yaniidz As.
 207. Lamii As.
 208. Firdaan As.
 209. Jaabir As.
 210. Saalum As.
 211. Asyh As.
 212. Harooban As.
 213. Jaabuk As.
 214. Aabuj As.
 215. Miynats As.
 216. Qoonukh As.
 217. Dirbaan As.
 218. Shokhim As.
 219. Haaridh As.
 220. Haarodh As.
 221. Harqiil As.
 222. Nu’man As.
 223. Azmiil As.
 224. Murohhim As.
 225. Midaas As.
 226. Yanuuh As.
 227. Yunus As.
 228. Saasaan As.
 229. Furyum As.
 230. Farbusy As.
 231. Shohib As.
 232. Ruknu As.
 233. Aamir As.
 234. Sahnaq As.
 235. Zakhun As.
 236. Hiinyam As.
 237. Iyaab As.
 238. Shibah As.
 239. Arofun As.
 240. Mikhlad As.
 241. Marhum As.
 242. Shonid As.
 243. Gholib As.
 244. Abdullah As.
 245. Adruzin As.
 246. Idasaan As.
 247. Zahron As.
 248. Bayi’ As.
 249. Nudzoyr As.
 250. Hawziban As.
 251. Kaayiwuasyim As.
 252. Fatwan As.
 253. Aabun As.
 254. Rabakh As.
 255. Shoobih As.
 256. Musalun As.
 257. Hijaan As.
 258. Rawbal As.
 259. Rabuun As.
 260. Mu’iilan As.
 261. Saabi’an As.
 262. Arjiil As.
 263. Bayaghiin As.
 264. Mutadhih As.
 265. Rahiin As.
 266. Mihros As.
 267. Saahin As.
 268. Hirfaan As.
 269. Mahmuun As.
 270. Hawdhoon As.
 271. Alba’uts As.
 272. Wa’id As.
 273. Rahbul As.
 274. Biyghon As.
 275. Batiihun As.
 276. Hathobaan As.
 277. Aamil As.
 278. Zahirom As.
 279. Iysaa As.
 280. Shobiyh As.
 281. Yathbu’ As.
 282. Jaarih As.
 283. Shohiyb As.
 284. Shihats As.
 285. Kalamaan As.
 286. Bawumii As.
 287. Syumyawun As.
 288. Arodhun As.
 289. Hawkhor As.
 290. Yaliyq As.
 291. Bari’ As.
 292. Aa’iil As.
 293. Kan’aan As.
 294. Hifdun As.
 295. Hismaan As.
 296. Yasma’ As.
 297. Arifur As.
 298. Aromin As.
 299. Fadh’an As.
 300. Fadhhan As.
 301. Shoqhoon As.
 302. Syam’un As.
 303. Rishosh As.
 304. Aqlibuun As.
 305. Saakhim As.
 306. Khoo’iil As.
 307. Ikhyaal As.
 308. Hiyaaj As.
 309. Zakariya As.
 310. Yahya As.
 311. Jurhas As.
 312. Isa As.
 313. Muhammad Saw.

Kisah Ashabul Kahfi


Kisah Ashabul Kahfi dan anjing dalam Al-Quran terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 10-26.
Mereka adalah sekelompok 7 pemuda dan seekor anjing yang tertidur dalam gua. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang kejam bernama Diqyanus. Raja tersebut meminta rakyatnya untuk menyembah selain Allah Ta’ala. Jika tidak, maka akan disiksa dan dibunuh.
 Nama-nama Ashabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda tersebut yaitu: Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatyunis, Dzununis. Serta seekor anjing bernama Qithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga.
Adapun lokasi gua Ashabul Kahfi tersebut ada 3 pendapat yaitu:
1. Gua di Efesus, Anatolia, Turki sekarang. Paulus, Orang Yahudi dan Kristian mempercayainya di sini. Namun gua ini juga turut menepati ciri-ciri yang diberikan dalam Al-Quran.
 2. Gua di Damsyik, Syria.
 3. Gua di Amman, Jordan. Gua ini lebih menepati ciri-ciri yang diberi dalam Al-Quran.
 Kisah Ashabul Kahfi dan Anjing Dalam Al-Quran
Kisah Ashabul Kahfi dan Anjing Dalam Al-Quran
Pada awalnya penduduk negeri Efesus beriman kepada Allah. Tapi keadaan berubah setelah Raja Diqyanus (Decius) yang menguasainya. Kekejamannya yang luar biasa telah membuat banyak rakyat sengsara. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, akan segera dibunuh. Dalam masa yang cukup lama, sebagian besar rakyat patuh kepada Raja dengan menyembah selain Allah.
Demi mempertahankan keislaman dan keimanan kepada Allah Ta’ala, 7 pemuda Ashabul Kahfi dan seekor anjing, memilih untuk mengasingkan diri serta bersembunyi dalam sebuah gua. Mereka teguh mempertahankan aqidah mereka walaupun menyadari nyawa dan diri mereka mungkin terancam dengan berbuat demikian.
 Pada saat mereka beristirahat di dalam gua itulah, Allah s.w.t. menidurkan 7 pemuda tersebut selama 309 tahun. Allah s.w.t. membolik-balikkan tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit, condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri. Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari kejaran Raja Diqyanus yang kejam dan tidak mengakui adanya Allah Yang Maha Sempurna.
Ashabul Kahfi Bangun Dari Tidur
 Setelah 309 tahun tersebut, Allah s.w.t. membangunkan 7 pemuda Ashabul Kahfi. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati.” Salah satu anggota Ashabul Kahfi bernama Tamlikha berkata: “Aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan”. Setibanya di sebuah pasar, ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”. “Ephesus,” sahut penjual roti.
Penjual Roti berkata kepada Tamlikha: “Alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja.” “Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini kudapatkan tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga 3 dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanus!”
Penjual roti itu marah. Tamlikha lalu ditangkap dan dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Tamlikha menjelaskan: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun!
 Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”
 “Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
 Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu
 nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan.
Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”
 “Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertaiku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi.
 Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di
 kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “ inilah rumahku!”
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut
 usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan
 mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Dia terperanjat
 ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
 “Aku Tamlikha anak Filistin!”
Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Engkau adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanus, raja durhaka.”
 Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja, Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua Al-Kahfi.
Pada masa itu Negeri Ephesus diatur oleh dua orang bangsawan istana. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanus datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini.
Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!” Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanus!” Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanus? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” “Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka. “Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun!
“Diqyanus sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!” Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?” “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya. “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.
 Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang, cabutlah nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!” Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas.
Ashabul Kahfi
Setelah kematian 7 pemuda dan anjing Ashabul Kahfi tersebut, dibangunlah di sisi gua tersebut sebuah bangunan masjid dan tugu sebagai peringatan demi menyembah dan membesarkan nama Allah Ta’ala.
Ayat Al-Quran Tentang Ashabul Kahfi
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [Al-Kahfi: 10]
“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyak dalam gua itu, bertahun-tahun, yang banyak bilangannya”. [Al-Kahfi: 11]
“Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya), untuk Kami menguji; siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)”. [Al-Kahfi: 12]
“Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”. [Al-Kahfi: 13]
“Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), semasa mereka bangun (menegaskan tauhid) lalu berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi: 14]
“(Mereka berkata pula sesama sendiri): “Kaum kita itu, menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah; sepatutnya mereka mengemukakan keterangan yang nyata yang membuktikan ketuhanan makhluk-makhluk yang mereka sembah itu?(Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian); Maka tidak ada yang lebih zalim dari orang-orang yang berdusta terhadap Allah. [Al-Kahfi: 15]
“Dan oleh karena kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah yang lain dari Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari RahmatNya kepada kamu, dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk urusan kamu dengan memberikan bantuan yang berguna”. [Al-Kahfi: 16]
“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam satu tempat yang luas di gua. Itulah tanda-tanda kekuasaan Allah. Barangsiapa diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dialah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan barangsiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak akan memperoleh seorang penolong pun yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya”. [Al-Kahfi: 17]
Ayat Al-Quran Tentang Ashabul Kahfi
“Dan engkau sangka mereka sadar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri (supaya badan mereka tidak dimakan tanah); sedangkan anjing mereka menjulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa penuh ketakutan kepada mereka”. [Al-Kahfi: 18]
“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. [Al-Kahfi: 19]
“Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. [Al-Kahfi: 20]
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. [Al-Kahfi: 21]
“(Sebagian dari) mereka akan berkata: “Bilangan Ashabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka”; dan setengahnya pula berkata bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka”, secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: “Bilangan mereka tujuh orang dan yang kedelapan ialah anjing mereka”. “Katakanlah (wahai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit”. Karena itu janganlah engkau membahas dengan siapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorang pun dari golongan (yang membincangkannya)”. [Al-Kahfi: 22]
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi”. [Al-Kahfi: 23]
“Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. [Al-Kahfi: 24]
“Dan mereka telah tidur dalam gua mereka, tiga ratus tahun (dengan perkiraan ahli kitab) dan sembilan lagi (dengan perkiraan kamu)”. [Al-Kahfi: 25]
“Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. [Al-Kahfi: 26]

10 SURAH YANG DAPAT MENCEGAH 10 PERKARA


10 SURAH YANG DAPAT MENCEGAH 10 PERKARA.
Bulan ini adalah bulan Ramadhan, alangkah baiknya bila di isi dengan membaca kitab suci Al-Qur'an.
Di dalam kitab suci Al-Qur'an yang berjumlah 114 surah, ada sepuluh surah yang dapat mencegah sepuluh perkara, sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Nasha-ih al-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad  merupakan karya Asy-Syaikh al-‘Allamah Abu Abd al-Mu’thi  Muhammad Nawawi  bin ‘Umar al-Banteni al-Jawi. (Beliau dilahirkan  di Kampung Tanara, Serang, Banten, Indonesia pada tahun 1815 M/1230 H. Wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 - usia 84 tahun).
Berikut kutipannya:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: عشر تمنع عشرا : سورة الفاتحة تمنع غضب الرب، وسورة يس تمنع عطش القيامة، وسورة الدخان تمنع اهوال القيامة، وسورة الواقعة تمنع الفقر، وسورة الملك تمنع عذاب القبر، وسورة الكوثر تمنع خصومة الخصماء، وسورة الكافرون تمنع الكفر عند النزع، وسورة الإخلاص تمنع النفاق، وسورة الفلق تمنع حسد الحاسدين، وسورة الناس تمنع الوسواس


Nabi Muhammad SAW bersabda: Di dalam Al-Qur'an ada sepuluh surah yang dapat mencegah sepuluh perkara:
1. Surah Al-Fatihah (Surah ke-1), mencegah amarah Allah.
2. Surah Ya-Siin (Surah ke-36), mencegah dahaga pada hari kiamat (di mahsyar).
3. Surah Ad-Dukhan (Surah ke-44), mencegah gejolak hari kiamat.
4. Surah Waqi‘ah (Surah ke-56), mencegah kefakiran.
5. Surah Al-Mulk (Surah ke-67), mencegah siksa kubur.
6. Surah Al-Kautsar (Surah ke-108), mencegah kebencian orang.
7. Surah Al-Kafirun (Surah ke-109), mencegah kekafiran di dalam sekarat (waktu roh akan keluar dari tubuhnya).
8. Surah Al-Ikhlas (Surah ke-112), mencegah sifat munafiq.
9. Surah Al-‘Alaaq (Surah ke-113), mencegah iri hatinya seseorang.
10. Surah An-Naas (Surah ke-114), mencegah was-was.
Allahu A’lam.

Saturday, 4 June 2016

PUASA DAN PENJELASANNYA

bujairimi.blogspot.co.id

PUASA

A. Definisi Puasa

Di dalam kitab At-Ta’rifat karangan Asy-Syarif As-Sayyid ‘Ali Bin Muhammad Al-Jurjani (1339 - 1413 M), Bab Shad halaman 132 (cetakan Al-Haramain),  sebagai berikut:

الصوم فى اللغة مطلق الإمساك، وفى الشرع عبارة عن إمساك مخصوص وهو الإمساك عن الأكل والشرب والجماع من الصبح إلى المغرب مع النية

Puasa menurut bahasa: Menahan diri secara umum. Dan menurut syara’: Satu ibarat daripada menahan diri secara khusus, yaitu menahan diri dari makan, minum dan jimak mulai dari shubuh sampai maghrib disertai dengan niat.

B. Perintah Wajib Puasa.
Ibadah puasa turun perintah kefardhuannya pada bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyah.

Firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2] :183).

C. Puasa merupakan salah satu dari lima rukun Islam, berdasarkan pada hadits Rasulullah Muhammad SAW:


عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاة ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَحَجِّ البِيْتِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ، رواه البُخارِيُّ وَ مُسلِمٌ


Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhuma, dia mengatakan, Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Islam itu dibangun di atas lima tiang: Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

D. Penjelasan Mengenai Puasa Ramadhan Di Dalam Kitab Matan Safinah An-Naja Karangan Syaikh Salim Bin Samair Al-Hadlramiy.

PUASA RAMADLAN
فصل : يجب صوم رمضان بأحد أمور خمسة : (أحدها ) بكمال شعبان ثلاثين يوما ، (وثانيها) برؤية الهلال في حق من رآه وإن كان فاسقا (وثالثها) بثبوته في حق من لم يره بعدل شهادة (ورابعها) بإخبار عدل رواية موثوق به سواء وقع في القلب صدقه أم لا ، أوغير موثوق به إن وقع في القلب صدقه (وخامسها) بظن دخول رمضان بالإجتهاد فيمن اشتبه عليه ذلك

Ada 5 perkara yang mewajibkan puasa Ramadlan, yakni :
1. Sempurnanya bulan Sya’ban selama 30 hari.
2. Melihat hilal bulan Ramadlan pada malam hari.
Hal ini berlaku bagi mereka/individu yang merasa melihat hilal, walaupun dia sendiri mempunyai sifat fasiq atau kurang adil.
3. Meyakini seseorang yang melihat bulan.
Hal ini berlaku bagi mereka yang tidak melihat bulan, namun ada kabar dari seseorang yang adil kesaksiannya bahwa orang tersebut melihat bulan, lalu diyakini dan diikuti.
Namun dengan syarat, kesaksian orang tersebut harus ditetapkan oleh hukum/pemerintah, tidak fasiq, bukan hamba sahaya dan harus laki-laki.

Dalil tentang ini adalah hadits dari Ibnu Umar :
“Aku memberi kabar kepada Rasulullah bahwa sesungguhnya aku bersaksi telah melihat hilal.
Lalu beliau puasa dan memerintahkan kaumnya untuk berpuasa”.
4. Adanya kabar berita bahwa Ramadlan telah tiba, yang dirasakan yakin kebenaran berita itu di dalam hati, walaupun kabar tersebut berasal dari orang fasiq, hamba sahaya atau pun anak kecil.
5. Sangkaan telah masuknya bulan Ramadlan melalui ijtihad/dugaan.
Contoh kasus terhadap orang-orang yang hidup di hutan belantara atau penjara pengasingan.

SYARAT SAH PUASA
فصل : شروط صحته أربعة أشياء : إسلام ، وعقل ، ونقاء من نحو حيض ، وعلم بكون الوقت قبلا للصوم

Syarat sah puasa Ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Suci dari seumpama darah haidh.
4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

SYARAT WAJIB PUASA
فصل : شروط وجوبه خمسة اشياء : اسلام ، وتكليف ، وإطاقة ، وصحة ، وإقامة

Syarat wajib puasa pada bulan Ramadlan ada lima perkara:
1. Islam atau pernah memeluk Islam, sehingga termasuk wajib berpuasa orang yang murtad, walaupun puasanya tidak sah.
2. Taklif, artinya berakal dan baligh, maka tidak wajib puasa bagi anak kecil, orang gila, pingsan dan yang mabuk. Namun wajib mengqadha puasa bagi mereka yang pingsan dan mabuk.
3. Kuat berpuasa, maka tidak wajib berpuasa bagi mereka yang tak mampu seperti tua renta dan yang sakit.
4. Sehat, sehingga tidak wajib berpuasa bagi yang sakit jika sekiranya dengan puasa tersebut bisa menambah parah penyakitnya.
5. Muqim, maka diperbolehkan tidak berpuasa bagi yang melakukan perjalanan jauh dengan syarat keberangkatan perjalanan tersebut harus sebelum fajar.

RUKUN PUASA
فصل : أركانه ثلاثة أشياء : نية ليلا لكل يوم في الفرض ، وترك مفطر ذاكرا مختارا غير جاهل معذور ، وصائم

Rukun puasa adalah ada tiga perkara:
1. Niat di waktu malam – antara maghrib sampai sebelum subuh setiap hari – dalam puasa wajib seperti puasa Ramadlan, puasa qadha, puasa nadzar, puasa kifarat.
Tempatnya niat adalah di dalam hati yakni menghadirkan hakikat puasa yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa di siang hari.
Tidaklah cukup berniat hanya dengan ucapan saja tanpa dengan hati, karena niat dengan ucapan hanyalah sunat, yang dimaksudkan agar ucapan niat tersebut membantu dalam menghadirkan niat yang sesungguhnya di dalam hati.
Adapun ucapan niat yang disunatkan adalah:
نويت صوم غد عن أداء فرض شهر رمضان هذه السنة لله تعالى
Nawaitu shawma ghadin ‘an ada-i fardhi syahri Ramadhana hazihis sanati lillahi ta-‘ala.
“Saya niat puasa esok hari daripada menunaikan fardhu bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”.
2. Meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa secara sadar tanpa paksaan serta tidak bodoh yang dimaafkan syara’, seperti makan walaupun sedikit, minum walau setetes, jima dan lainnya.
3. Orang yang berpuasanya.

WAJIB QADLA PUASA
فصل : يجب مع القضاء للصوم الكفارة العظمى والتعزير على من أفسد صومه في رمضان يوما كاملا بجماع تام آثم به للصوم
 ويجب مع القضاء الإمساك للصوم في ستة مواضع : الأول : في رمضان لافي غيره على متعد بفطره ، والثاني : على تارك النية ليلا في الفرض ، والثالث : على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافه ، والرابع : على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه ايضا ، والخامس : على من بان له يوم ثلاثين من شعبان أنه من رمضان ، والسادس : على من سبقه ماء المبالغة من مضمضة واستنشاق

Diwajibkan membayar kafarat beserta mengqhadha puasa, dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima’ lagi berdosa sebabnya .
Dan wajib menahan makan dan minum ketika batal puasanya beserta mengqadlanya pada enam tempat:
1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang Fardlu.
3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa Fajar telah terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.
5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.

BATAL PUASA
فصل : يبطل الصوم : بردة ، وحيض ، ونفاس ، أو ولادة ، وجنون ولو لحظة ، وبإغماء ، وسكر تعدى به إن عمَّا جميع النهار
Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:
– Sebab-sebab murtad.
– Haidl.
– Nifas.
– Melahirkan.
– Gila sekalipun sebentar.
– Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

HUKUM MEMBATALKAN PUASA
فصل : الإفطار في رمضان أربعة انواع : واجب كما في الحائض والنفساء ، وجائز كما في المسافر والمريض ولاولاكما في المجنون ، ومحرم كمن أخر قضاء رمضان مع تمكنه حتى ضاق الوقت عنه
 وأقسام الإفطار أربعة أيضا ما يلزم فيه القضاء والفدية وهو اثنان : الأول : الإفطار لخوف على غيره ، والثاني : الإفطار مع تأخير قضاء مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر ، وثانيها مايلزم فيه القضاء دون الفدية وهو يكثر كمغمى عليه ، وثالثها ما يلزم فيه الفدية دون القضاء وهوشيخ كبير ، ورابعها لا ولا وهو المجنون الذي لم يتعد بجنونه

Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:
1. Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.
2. Diharuskan, sebagaimana orang yang berpergian dan orang yang sakit.
3. Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.
4. Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qhadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qhadha tersebut tidak mencukupi.
Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:
1. Orang yang diwajibkan qhadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qhadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.
2. Orang yang diwajibkan mengqhadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.
3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqhadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.
4. Orang yang tidak diwajibkan mengqhadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.

YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA
فصل : الذي لا يفطِر مما يصل إلى الجوف سبعة أفراد : مايصل إلى الجوف بنسيان ، أو جهل ، أو إكراه ، وبجريان ريق بما بين أسنانه وقد عجز عن مجه لعذره ، وما وصل إلى الجوف وكان غبار طريق ، وما وصل إليه وكان غربلة دقيق ، أوذبابا طائرا أو نحوه

Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:
1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut dengan lupa.
2. Atau tidak tahu hukumnya.
3. Atau dipaksa orang lain.
4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir diantara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.
5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.
6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.
7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang atau seumpamanya ke dalam rongga mulut.

E. Penjelasan Mengenai Puasa Ramadhan Di Dalam Kitab Matan Al-Ghayah Wat-Taqrib Karangan Abu Syuja’ Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahani


SYARAT WAJIB PUASA

وشرائط وجوب الصيام أربعة أشياء : الإسلام والبلوغ والعقل والقدرة على الصوم

Syarat wajib puasa ada empat, yaitu:
 1. Islam,
 2. Baligh,
 3. Berakal sehat,
 4. Mampu berpuasa.

 FARDLU PUASA

وفرائض وجوب الصوم أربعة أشياء: النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيء

Fardlu puasa ada empat, yaitu:
 1. Niat,
 2. Menahan diri dari makan dan minum,
 3. Menahan diri dari jimak (hubungan intim) dan
 4. Menahan diri dari sengaja muntah.

 YANG MEMBATALKAN PUASA

والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء : ما وصل عمدا إلى الجوف أو الرأس والحقنة في أحد السبيلين والقيء عمدا والوطء عمدا في الفرج والإنزال عن مباشرة والحيض والنفاس والجنون والردة

Yang membatalkan puasa ada sepuluh, yaitu:
 1. Suatu benda yang sampai dengan sengaja ke dalam perut,
 2. Suatu benda yang sampai dengan sengaja ke rongga kepala,
 3. Suntik ke salah satu dua jalan (kemaluan depan belakang),
 4. Muntah dengan sengaja,
 5. Hubungan intim (jimak) secara sengaja di kemaluan wanita,
 6. Keluar mani (sperma) sebab persentuhan,
 7. Haidl,
 8. Nifas,
 9. Gila,
 10. Murtad (keluar dari Islam).

 YANG DISUNNAHKAN SAAT PUASA

ويستحب في الصوم ثلاثة أشياء : تعجيل الفطر وتأخير السحور وترك الهجر من الكلام

Dan disunnahkan dalam berpuasa itu tiga hal:
 1. Cepat-cepat (bersegera) berbuka (ketika waktunya datang);
 2. Mengakhirkan sahur;
 3. Meninggalkan perkataan keji (buruk).

HARI YANG HARAM BERPUASA

ويحرم صيام خمسة أيام : العيدان وأيام التشريق الثلاثة

Haramlah berpuasa pada hari-hari yang lima, yaitu:
Dua hari - pada dua hari raya (Fitri dan Adha);
Tiga hari - pada hari tasyriq yang tiga (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah).

 MAKRUH BERPUASA

ويكره صوم يوم الشك إلا أن يوافق عادة له

Dan dimakruhkan (makruh tahrim) berpuasa pada hari keraguan (yaitu tanggal 30 Sya’ban, bila keadaan rukyah masih meragukan), kecuali bila bertepatan dengan hari kebiasaan bagi dia (berpuasa sunnah).

BERSETUBUH PADA SIANG HARI RAMADHAN

ومن وطئ في نهار رمضان عامدا في الفرج فعليه القضاء والكفارة وهي : عتق رقبة مؤمنة ، فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين ، فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكينا لكل مسكين مد

Barangsiapa bersetubuh (berhubungan intim) pada siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja pada kemaluan (muka atau belakang) wajiblah ia mengqadha dan membayar kafarat (denda) yaitu memerdekakan budak mukmin.
Jika tidak ada, wajiblah ia berpuasa dua bulan berturut-turut.
Jika tidak dapat (mengerjakannya) wajiblah ia memberi makan kepada 60 orang miskin, untuk tiap orang 1 mud (6 ons makanan pokok).

ORANG MATI DAN MENANGGUNG PUASA RAMADHAN

ومن مات وعليه صيام من رمضان أطعم عنه لكل يوم مد

Barangsiapa meninggal dunia sedang ia mempunyai tanggungan puasa dari Ramadlan, haruslah dikeluarkan makanan atas namanya (kepada orang miskin, oleh walinya dari harta peninggalannya) untuk tiap hari 1 mud).

ORANG TUA YANG TIDAK MAMPU BERPUASA

والشيخ إن عجز عن الصوم يفطر ويطعم عن كل يوم مدا

Orang tua yang telah lanjut usia (pikun, termasuk juga orang sakit yang tak ada harapan untuk sembuh) jika tidak kuat berpuasa, boleh berbuka (tidak puasa) dan harus memberi makan (kepada orang miskin) untuk tiap hari 1 mud.

 WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

والحامل والمرضع إن خافتا على أنفسهما : أفطرتا وعليهما القضاء وإن خافتا على أولادهما : أفطرتا وعليهما القضاء والكفارة عن كل يوم مد وهو رطل وثلث بالعراقي

Wanita hamil dan wanita yang menyusui jika kuatir akan terganggu kesehatan dirinya, boleh berbuka (tidak puasa) dan wajiblah keduanya mengqadha.
 Jika keduanya kuatir akan (terganggu kesehatan) anaknya, boleh berbuka puasa dan wajib mengqadha serta membayar kafarat untuk tiap hari 1 mud yaitu ½ kati Irak (6 ons).

 ORANG SAKIT DAN MUSAFIR

والمريض والمسافر سفرا طويلا يفطران ويقضيان

Orang sakit dan orang musafir yang bepergian jauh boleh keduanya berbuka dan harus mengqadla.

 I’TIKAF

فصل : والاعتكاف سنة مستحبة وله شرطان : النية والبث في المسجد

I’TIKAF atau berdiam diri di masjid itu adalah sunnah yang disenangi oleh Allah. Dan i'tikaf itu mempunyai 2 syarat, yaitu niat dan berdiam di masjid.

ولا يخرج من الاعتكاف المنذور إلا لحاجة الإنسان أو عذر من حيض أو مرض لا يمكن المقام معه ويبطل بالوطء

Seseorang tidak boleh keluar dari (masjid ketika menjalankan) i'tikaf yang dinazari kecuali untuk keperluan manusia (seperti kencing dan berak) atau karena terhalang oleh haid atau sakit yang tak memungkinkan orang berdiam di masjid Dan batallah i'tikaf itu sebab persetubuhan (hubungan intim).

F. Beberapa Hadits Tentang Puasa.
Disebutkan didalam Kitab Matan Lubab Al-Hadits Karangan Jalaluddin 'Abdur-Rahman bin Abu Bakar As-Suyuthiy dengan Syarah Tanqih Al-Qaul Al-Hatsits Karangan Asy-Syaikh Muhammad bin 'Umar An-Nawawiy Al-Bantaniy, halaman 23-25.

1. Rasulullah menceritakan tentang firman Allah Ta'ala:
كل حسنة بعشر أمثالها الى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لى وأنا أجزى به
"Tiap-tiap amal kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat kecuali puasa, maka puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya".
Allah SWT berfirman didalam Al-Hadits Al-Qudsi:
الصوم لى وأنا أجزى به
"Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan".
Riwayat: Ath-Thabraniy dari Abu Umamah dengan isnad hasan.

2. Rasulullah SAW bersabda:
للصائم فرحتان يفرح بهما فرحة عند إفطاره وفرحة عند لقاء ربه
"Untuk orang yang berpuasa itu memperoleh dua kebahagiaan yang dia berbahagia dengan dua kebahagiaan tersebut, yaitu satu kebahagiaan ketika berbuka puasa (dengan hilang rasa lapar dan hausnya ketika dibolehkan berbuka puasa baginya dan ketika sempurna puasanya), dan satu kebahagiaan lagi ketika bertemu dengan Tuhannya (pada hari kiamat)".
Wahhab bin Munabbah berkata:
ليس للمؤمن راحة دون لقاء ربه
"Tidak ada kebahagiaan bagi seorang mukmin selain bertemu dengan Tuhannya".

3. Rasulullah SAW bersabda:
لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك
"Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah lebih disukai daripada harum kasturi".

4. Rasulullah SAW bersabda:
عليكم بالغنيمة الباردة قالوا يا رسول الله وما الغنيمة الباردة ؟ قال الصوم فى الشتاء الغنيمة الباردة
"Wajib atas kamu memperoleh kemudahan yang menyenangkan".
Sahabat bertanya: "hai Utusan Allah, apakah kemudahan yang menyenangkan itu?".
Dia bersabda: "Berpuasa pada musim dingin yang mudah lagi menyenangkan".

5. Rasulullah SAW bersabda:
من صام يوما من رمضان غفرله ما تقدم من ذنبه وما تأخر فإذا تم رمضان لا يكتب عليه ذنب إلى الحول الاخر فإن مات قبل رمضان اخر جاء يوم القيامة وليس عليه ذنب
"Barangsiapa yang berpuasa satu hari dari bulan Ramadhan, niscaya diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang kemudian.
Apabila telah habis Ramadhan, niscaya tidak dituliskan dosa atas dirinya hingga datang tahun berikutnya.
Jika ia meninggal dunia sebelum datang Ramadhan berikutnya, niscaya ia datang pada hari kiamat padahal tidak ada dosa atas dirinya".

6. Rasulullah SAW bersabda:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه وما تأخر
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan semata karena Allah, niscaya diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu dan yang kemudian".
Riwayat: Al-Khathib dari Ibnu 'Abbas.

7. Rasulullah SAW bersabda:
لو أذن الله للسموات والأرض أن تتكلما لقالتا بشرى لمن صام رمضان بالجنة
"Kalau sekiranya diberikan izin oleh Allah kepada langit dan bumi untuk berbicara, niscaya sungguh keduanya (langit dan bumi) akan berkata menyampaikan kabar gembira dengan (masuk) syurga untuk orang-orang yang berpuasa Ramadhan".

8. Rasulullah SAW bersabda:
الصيام جنة من النار كجنة أحدكم من القتال
"Puasa itu adalah perisai (pelindung) daripada api neraka sama seperti perisai (pelindung) salah seorang kamu daripada peperangan".
Maksudnya, sama seperti baju besi yang dapat mencegah dari terbunuh didalam peperangan.
Riwayat: Ibnu Majah dari 'Utsman bin Abu Al-'Ash.
Status hadits: Sahih.
Kata جنة Junnah dibaca dengan dlammah huruf Jim.
Dan pada ucapan lain:
الصوم جنة أحدكم من النار كدرع أحدكم فى القتال
"Puasa itu adalah perisai (pelindung) salah seorang kamu daripada api neraka sama seperti baju besi salah seorang kamu didalam peperangan".

9. Rasulullah SAW bersabda:
الصائم اذا أفطرصلت عليه الملائكة حتى يفرغ
"Orang yang berpuasa ketika berbuka puasa hingga selesai akan didoakan untuknya oleh para malaikat dengan doa keberkatan atau dimohonkan keampunan untuknya oleh para malaikat".

10. Rasulullah SAW bersabda:
لكل شئ زكة وزكة الجسد الصوم
"Untuk segala sesuatu itu ada zakat (sedekah)nya, dan zakat tubuh itu adalah puasa".
Riwayat: Ibnu Majah dari Abu Hurairah dan Thabraniy dari Sahal bin Sa'ad.

11. Rasulullah SAW bersabda:
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَ صُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَ عَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَ دُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَ ذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
”Tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya akan dilipatgandakan, doanya terkabulkan dan dosanya terampuni.”
Riwayat: Al-Baihaqi dari Abdullah bin Abu Aufa.
Status hadits: Dla'if (lemah).

12. Hadits tentang Rukun Islam
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النبي صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، رواه أحمد و الترمذى و البُخارِيُّ وَ مُسلِمٌ
Dari Abu 'Abdirrahman 'Abdullah bin 'Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhuma, dia mengatakan, Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Islam itu dibangun di atas lima tiang: syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.
Riwayat: Ahmad, At-Tirmizi, Al-Bukhari dan Muslim.

13. Rasulullah SAW bersabda:
صلوا خمسكم وزكوا أموالكم وصوموا شهركم وحجوا بيت ربكم تدخلوا جنة ربكم بغير حساب
"Shalatlah lima kamu (maksudnya shalat kamu yang lima), zakatkanlah pada hartamu, berpuasalah pada bulan kamu (maksudnya Ramadhan sebagaimana diriwayatkan dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas ra dari Rasulullah SAW bersabda:
رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ
”Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”) dan berhajilah kepada Rumah Tuhanmu (maksudnya Ka'bah yang mulia), masuklah kamu ke dalam surga Tuhanmu dengan tanpa hisab".
Allahu A’lam.

Thursday, 2 June 2016

BACALAH DUA AYAT INI SETIAP MALAM, NISCAYA ALLAH AKAN MELANCARKAN REZEKIMU


BACALAH DUA AYAT INI SETIAP MALAM, NISCAYA ALLAH AKAN MELANCARKAN REZEKIMU


Ada dua ayat didalam Al-Qur'an yang jika dibaca setiap malam jadi orang yang membacanya akan diberikan kecukupan. Dua ayat saja? Iya, hanya dua ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 .
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, niscaya ia tercukupi.”
(HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam Nuzhatul Muttaqin syarh Riyadhush Shalihin, menerangkan kalau salah satu arti tercukupi dalam hadits ini yaitu tercukupi keperluan dunia serta akhiratnya dan terhindarkan dari semua keburukan.

Hadits ini juga yang dicantumkan oleh Ibnu Katsir saat menjelaskan keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah ini dalam tafsirnya. Dua ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah itu tidak lain adalah firman-Nya:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
(QS. Al-Baqarah [2] : 285-286).

Wallahu A’lam.

Wednesday, 1 June 2016

Inilah Pahala Bagi Orang Yang Dihina Dan Dicaci


Inilah Pahala Bagi Orang yang Dihina Dan Dicaci.


Menghina orang adalah sebuah perbuatan tercela, dan Allah tidak menyukai hal tersebut. Karena biasanya, orang yang suka menghina dan mencaci maki orang lain adalah mereka yang bersikap sombong.


Selain itu, menghina adalah perbuatan yang dapat menyakiti hati orang lain. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang menyakiti orang lain, terlebih adalah orang yang menyakiti seorang muslim.


Rasulullah SAW bersabda, “Mencaci orang Islam (Muslim) adalah perbuatan fasiq dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR. Muslim).


Namun sekarang ini banyak orang yang saling menghina satu sama lain, padahal hal tersebut adalah perbuatan dosa. Dan dosa besar tengah menantinya untuk membawanya ke neraka.


Sebaiknya, orang yang mendapat hinaan atau cacian sebaiknya tidak melakukan balasan mencela orang yang menghina dirinya itu. Karena, saat ada orang yang menghina kita justru kita akan mendapatkan pahala.


Untuk itu, kita tidak boleh bersedih apabila ada seseorang yang dengan sengaja menghina dan merendahkan kita. Karena, sebenarnya orang tersebut sedang memberikan hadiah kepada kita, yaitu :


Ia sedang memberikan kebaikannya (pahalanya) kepada kita.


Allah menghapus dosa-dosa kita dari celaan yang kita dapatkan.


Dengan kata lain, apabila kita sedang dihina atau direndahkan orang lain, maka Allah akan memberikan kita pahala apabila kita bersabar. Seorang salaf pernah berkata : “Jika aku boleh berghibah, maka kedua orangtuakulah yang paling berhak aku ghibahi. Karena hanya mereka berdua yang paling berhak aku serahi kebaikanku.”


Salah seorang salaf juga berkata: “Apabila sampai kepadamu perkataan dari saudaramu (berupa celaan) yang menyakitimu, maka janganlah engkau risau. Seandainya perkataan itu benar, maka itu adalah hukuman bagimu yang disegerakan (daripada mendapat hukuman di akhirat). Dan seandainya perkataan itu tidak benar, maka itu akan menjadi pahala bagimu tanpa harus berbuat baik.”


Sedangkan bagi orang yang menghina tersebut, maka Allah sudah menyiapkan neraka dan siksa baginya. Karena mencela adalah sebuah perbuatan yang dzalim, Allah berfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat [49] ayat 11).


Dan orang yang mencela itu adalah orang yang sedang memikul kebohongan dan dosa yang sangat besar, Allah telah menegaskannya:


وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”
 (QS. Al-Ahzab [33] ayat 58).