Thursday, 26 May 2016

Berpaling Dari Dalil: Mungkinkah?


Berpaling Dari Dalil: Mungkinkah?

Lelaki tua itu sudah sakit-sakitan, dan calon pembeli tanah didampingi pengacara terus memaksa agar lelaki itu menandatangani kontrak jual beli. Maka ditandatanganilah kontrak itu. Dua hari kemudian lelaki itu meninggal, dan keluarganya baru tahu bahwa telah terjadi jual beli. Pembeli tanah memiliki kontrak yang sudah sah di mata hukum dengan harga yang sangat murah. Semuanya sah, dan tanda tangan pun asli.
Keluarga menggugat ke Pengadilan. Alasannya ada ketidak-adilan dalam proses jual beli itu. Lelaki tua dan sekarat itu tidak didampingi keluarga dan pengacara saat melakukan transaksi. Pengadilan Inggris kebingungan menghadapi kasus yang terjadi tahun 1859 ini (Clark v Malpas). Kalau berpegang pada aturan formal, transaksi dinyatakan sah, tapi karena prosedurnya cacat dimana satu pihak mengambil keuntungan dari kelemahan posisi pihak lain, maka transaksi dinyatakan tidak sah. Pengadilan memilih opsi kedua berdasarkan konsep Equity. Transaksi dinyatakan batal.
Ribuan tahun sebelumnya, Imam Abu Hanifah sudah menerapkan prinsip Equity ini dalam berijtihad. Qiyas (analogy) kadangkala melahirkan hukum yang tidak adil atau kurang proporsional. Maka Imam Abu Hanifah berpaling dari hukum qiyas yang lebih kuat (jali) menuju hukum berdasarkan qyas yang lebih lemah (khafi). Dengan kata lain, dalil yang lebih kuat dikecualikan atau dikhususkan karena hasilnya lebih mencerminkan ruh at-tasyri’. Pengecualian dan pengkhususan ini dinamakan istihsan.
Dasar melakukan istihsan ini adalah QS Az-Zumar: 18:

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik (ahsanah). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS Az-Zumar [39] : 18).

Dalam satu riwayat dari Ibn Mas’ud, Rasul bersabda : “Apa yang dipandang baik oleh umat islam, maka di sisi Allah juga dianggap baik” (HR. Ahmad).
Para ulama berdebat mengenai defenisi istihsan, seperti dipaparkan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Usul al-Fiqh al-Islami, Jilid 2, 736-739. Bahkan keberatan Imam Syafi’i terhadap istihsan disinyalir berpangkal dari perbedaan definisi itu.
Berbagai contoh pengecualian atau pengkhususan menggunakan istihsan juga disampaikan oleh para ulama. Misalnya, ada ulama yang menganggap tindakan Umar bin Khattab tidak memotong tangan pencuri saat masa paceklik itu berdasarkan istihsan. Bahkan dalam contoh modern: Dekrit Presiden Soekarno, Supersemar yang diberikan kepada Jenderal Soeharto maupun Dekrit Presiden Gus Dur membubarkan parlemen, semuanya bisa dianggap sebagai contoh istihsan. Menyimpang dari aturan, tapi bertujuan kemaslahatan bangsa.

Contoh lain: Seorang raja telah menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadan. Maka dikumpulkan semua ulama dimana raja meminta fatwa. Semua ulama sepakat bahwa sesuai urutan kafarat dalam hadits Nabi, maka raja harus membebaskan seorang budak. Namun ada satu ulama yang justru memberikan fatwa berbeda. Ulama ini meminta raja berpuasa dua bulan berturut-turut, padahal ini adalah opsi kedua jikalau tidak mampu membebaskan budak.

Namun bagi ulama ini, kalau raja hanya diminta membebaskan satu budak, maka begitu mudahnya raja besok melanggar lagi ketentuan syariat. Bukan perkara susah buat raja untuk setiap hari membebaskan budak. Untuk memberikan efek jera, maka ulama ini langsung berpaling kepada opsi kedua, yaitu meminta raja berpuasa dua bulan berturut-turut. Para ulama lain ribut, namun yang dilakukan oleh seorang ulama yang berani tampil beda di depan raja ini adalah mengaplikasikan konsep istihsan-nya Imam Abu Hanifah.

Begitulah...para ulama sejak dahulu kala sudah dengan luar biasa memasukkan pertimbangan “baik dan buruk” dalam mengeluarkan fatwa. Mereka tidak hanya bertumpu pada kekuatan dalil, tapi juga sejauhmana keadilan dan kemaslahatan bisa terwujud. Dunia barat pun, baik disadari atau tidak, sebetulnya sangat terlambat memahami “istihsan” tersebut. Hukum Islam jauh lebih maju dalam melakukan pengecualian dan pengkhususan dalil.

Sayang, saat ini, sebagian umat Islam tidak lagi mempelajari ilmu usul al-fiqh yang luar biasa itu. Mereka hanya dicekoki oleh para murabbi dan ustadznya: “cukup pakai Qur'an dan Hadits. Kalau tidak ada dalil dari keduanya maka tinggalkan perkara ini.”
Mereka sibuk menanyakan dalil, padahal para ulama sudah lebih dalam lagi: bagaimana memahami dalil, bagaimana mengaplikasikan dalil kalau terjadi kontradiksi, bolehkah mengecualikan dalil yang kuat dengan memakai dalil yang lemah, bagaimana pula kalau tidak ada dalil sama sekali tapi ada kemaslahatan di sana, dan seterusnya...
Kesimpulannya: ber-ijtihad tidak sesederhana bikin telor ceplok mas bro...

Benarkah Orang Yang Bersyukur Akan Semakin Sukses?


Benarkah Orang Yang Bersyukur Akan Semakin Sukses?
Kita dengar ayat ini sering dibacakan:


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim [14]:7).
Namun benarkah demikian?
Ibn Katsir menyodorkan kisah nyata implementasi ayat di atas: diriwayatkan oleh Imam Ahmad ada seorang pengemis yang diberi sebutir kurma oleh Nabi, namun pengemis tersebut menolak karena merasa pemberian itu hanya sebutir biji kurma. Datang pengemis lain, Nabi berikan sebutir biji kurma. Terdengar ucapan terima kasih dan rasa syukur mendapat pemberian dari Nabi meski hanya sebutir kurma. Mendengar rasa syukur pengemis kedua ini, maka Nabi tambahkan 40 dirham untuknya.
Orang yang bersyukur adalah orang yang tahu berterima kasih. Bukan sekedar banyak atau sedikitnya rezeki yang kita peroleh, tapi renungkan sejenak: yang memberi kita reze itu adalah Sang Maha Agung. Ini saja sudah pantas membuat kita bersyukur karena sedikit atau banyak kita masih diperhatikan dan diberi rezeki oleh Allah swt. Alhamdulillah.
Orang yang bersyukur akan jauh lebih produktif. Kenapa?
Karena mereka tahu memanfaatkan resources dan peluang yang ada.
Orang yang selalu mengeluh akan menghabiskan waktunya menyesali diri. Berlama-lama dalam nestapa membuat kita tidak siap menangkap peluang berikutnya.
Orang yang bersyukur akan memanfaatlkan apa yang dimiliki saat ini, sekecil apapun itu, sebagai bekal untuk terus maju.
Orang yang bersyukur itu lebih bahagia dan optimis.
Sementara orang yang pesimis akan sibuk meratapi kegagalan dan nyinyir akan kesuksesan orang lain, orang yang pandai bersyukur emosinya akan lebih stabil, sigap mencari solusi, melokalisir persoalan bukan melebarkannya kemana-mana, dan taktis mengatur strategi. Dengan segala keterbatasannya, orang yang bersyukur akan membuat skala prioritas.
Siapapun tidak akan suka dengan orang yang selalu mengeluh, dan kalau dia punya problem seolah hanya dia satu-satunya di dunia orang yang punya masalah, dan semua orang harus memperhatikan masalahnya.
Orang seperti ini tidak akan produktif berkarya, dan tidak akan bertambah nikmat dari Allah.
Ayat di atas itu sangat nyata dan membumi.
Allah berfirman:

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. A-Baqarah [2] : 152).

Ayat ini begitu padat-bergizi menggabungkan tiga konsep sekaligus: dzikir, syukur dan kufur.
Mengingat Allah (berdzikir) akan membawa kita kepada rasa syukur, sebaliknya orang yang lalai dari mengingat Allah, dimana setiap punya masalah dia menjadi kufur nikmat.
Dia jadi lupa akan berbagai nikmat yang sudah Allah berikan sebelumnya.
Konsep syukur yang begitu dahsyat di atas, sayangnya begitu tiba ditengah-tengah kita menjadi dipalingkan maknanya. “Syukurin loe!” walhasil kata “syukur” berubah menjadi negatif, seolah bersyukur itu sama dengan mengejek kegagalan orang lain.
Kita seolah-olah mensyukuri kegagalan orang lain.
Mungkin ini sebabnya kita sulit menjadi bangsa yang maju karena kita keliru menerapkan makna syukur.

Monday, 23 May 2016

Membayar Fidiyah Shalat

Salah satu hal yang biasa dilakukan oleh keluarga orang yang meninggal adalah membayar fidiyah shalat yang ditinggalkan simayat semasa hidupnya yang belum sempat diqadha, dengan harapan semoga Allah memberi keringanan atas shalat yang ia tinggalkan. Saat ini legalitas hukum kafarat shalat banyak dipertanyakan bahkan ada pihak yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan sama sekali. Pembayaran fidiyah shalat tersebut biasanya disertakan dengan fidyah dan kafarah yang lain seperti puasa, telat qadha puasa, sumpah dll.

Pertanyaan
 Bagaimanakah sebenarnya hukum membayar kafarah shalat orang meninggal?

Jawab:
 Berdasarkan pendapat yang kuat dalam Mazhab Syafii seseorang yang meninggal sedangkan ada shalat yang belum ia qadha maka tidak ada qadha dan demikian juga tidak ada fidiyah.
 Pendapat dalam mazhab lain yang juga diikuti oleh sebagian para ulama Mazhab Syafii, shalat tersebut diqadha oleh para keluarga mayit. Pendapat ini berlandaskan kepada hadits Imam Bukhari dan imam hadist yang lain. Pendapat ini juga diikuti oleh beberapa kalangan ulama dari mazhab Syafii, bahkan Imam as-Subky mengerjakan shalat tersebut untuk para kerabat beliau yang telah meninggal dunia.

 Berkenaan dengan pendapat ini Imam al-Qalyuby memberikan komentar, bahwa sebagian kalangan guru-guru beliau mengatakan bahwa ini amalan untuk diri sendiri maka dibolehkan mengikuti pendapat tersebut karena pendapat tersebut adalah muqabil dari pendapat Ashah.

 Menurut pendapat yang lain, terhadap shalat yang tertinggal tersebut bisa digantikan dengan makanan dengan ukuran satu mod (1 mod=864 gram, berdasarkan penelitian ulama muda Aceh, alumni LPI MUDI, Tgk. Tarmizi H. M. Daud, pimpinan Dayah Najmul Hidayah, Desa Subueng Cot Merak Blang, Kec. Samalanga) untuk satu kali shalat.

 Imam Sulaiman al-Kurdy mengatakan bahwa al-Khawarizmy pernah mengatakan bahwa; saya melihat di daerah khurasan para ulama dari kalangan Mazhab Syafii yang berfatwa dengan pendapat ini.

 Dalam satu hadist Rasulullah bersabda:


ما الميت في القبر إلا كالغريق المتعوث ينتظر دعوة تلحقه من أب أو أم أو أخ أو صديق فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا و ما فيها
Tiada dari mayat dalam kubur kecuali bagaikan orang yang tenggelam yan meminta tolong, ia menunggu doa dari ayah, ibu, saudara dan kawannya. Maka apabila datang doa baginya hal tersebut lebih ia cintai daripada dunia dan isinya(H.R. Imam Baihaqy)


Memberi fidiyah shalat untuk orang yang telah meninggal hanyalah berharap semoga Allah ta`la dengan sifat kemurahanNya akan diberikan keringanan kepada mayat tersebut.


Adapun bila memberi fidiyah dengan keyakinan pasti akan menutupi shalat yang ditinggalkan didunia maka ini adalah pemahanan yang salah, apalagi bila ada keyakinan boleh saja kita meninggalkan shalat asalkan pada waktu meninggal shalat tersebut diganti dengan fidiyah berupa makanan pokok.


Kesimpulan mengenai fidiyah shalat dalam mazhab Syafii, menurut pendapat yang kuat tidak dianjurkan tetapi menurut pendapat yang lain, shalat tersebut boleh digantikan dengan membayar fidiyah berupa makanan pokok sebanyak 1 mod (864 gram), walaupun ini adalah pendapat dhaif namun boleh diamalkan. Maka dalam hal ini masyarat yang ingin mengamalkan pendapat dhaif tersebut maka boleh saja sebagai usaha untuk menolong mayat, semoga Allah memberikan keringanan kepada mayat tersebut dan bagi pihak yang tidak ingin membayar fidiyah maka juga tidak mengapa dan tentu saja dengan tidak menyalahkan orang-orang yang ingin membayar fidiyah.

Referensi.
1.Sayyid Abi Bakr Syatha, Fathul` Muin dan Hasyiah i`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain
2.Sayyid Abi Bakr Syatha, Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain
3.Ibnu Hajar al-Haitamy,Tuhfatul Muhtaj jilid 3 hal 482 Cet. Dar Fikr
4.Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwany, Hasyiah Syarwany jilid 3 hal 482 Cet. Dar Fikr
5.Fiqh Islamy wa Adillatuh. Cet Dar fikr
6.Hasyiah Qalyuby `ala Syarah Mahally jilid 2 hal 86 Cet. Dar Fikr
Nash untuk kafarah shalat
 1. Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain


(تنبيه) من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه، وفي قول أنها تفعل عنه - أوصى بها أم لا ما حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه.

(فائدة) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية. وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم.

وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا.

وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل، واجبة أو مندوبة.

وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة، أن للانسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.اهــ.

وقوله: لم تقض ولم تفد عنه وعند الامام أبي حنيفة رضي الله عنه: تفدى عنه إذا أوصى بها ولا تقضى عنه.

ونص عبارة الدر مع الاصل: ولو مات وعليه صلوات فائتة، وأوصى بالكفارة، يعطى لكل صلاة نصف صاع من بر كالفطرة، وكذا حكم الوتر والصوم.وإنما يعطى من ثلث ماله، ولو لم يترك مالا يستقرض وارثه نصف صاع مثلا ويدفعه للفقير ثم يدفعه الفقير للوارث، ثم وثم حتى يتم.ولو قضاها وارثه بأمره لم يجز لانها عبادة بدنية.اهــ.

2. Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 244 Cet. Haramain


(فائدة) من مات وعليه صلاة، فلا قضاء، ولا فدية.

وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي - إن خلف تركه - أن يصلي عنه كالصوم.وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا.


(قوله: من مات وعليه صلاة) أي أو اعتكاف.(وقوله: فلا قضاء ولا فدية) أي لعدم ورودهما. ويستثنى من منع الصلاة والاعتكاف عن الميت، ركعتا الطواف، فإنهما يصحان من الاجير، تبعا للحج. وما لو نذر أن يعتكف صائما فإن البغوي قال في التهذيب: إن قلنا لا يفرد الصوم عن الاعتكاف - أي وهو الاصح - وقلنا يصوم الولي: فهذا يعتكف عنه صائما، وإن كانت النيابة لا تجزئ في الاعتكاف.(قوله: وفي قول كجمع مجتهدين) أي وفي قول عندنا تبعا لجمع مجتهدين.

وعبارة فتح الجواد: ففيها - أي الصلاة - قول لجمع مجتهدين أنها تقضي عنه، لخبر البخاري وغيره، ومن ثم إلخ، فلعل الكاف - الداخلة على لفظ جمع - زيدت من النساخ.(وقوله: أنها) أي الصلاة تقضي عنه.وفي قول أيضا: أن الاعتكاف بفعل عنه.(قوله: لخبر البخاري وغيره) في التحفة: لخبر فيه لكنه معلول.(قوله: ومن ثم اختاره) أي ومن أجل ورود خبر فيه، اختار القول بالقضاء جمع من أئمتنا.(قوله: وفعل به) أي عمل بهذا القول، وهو قضاء الصلاة.وفي حواشي المحلى للقليوبي: قال بعض مشايخنا: وهذا من عمل الشخص لنفسه، فيجوز تقليده، لانه من مقابل الاصح.اهـــ.


(قوله: وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا إلخ) قال الكردي: قال الخوارزمي: ورأيت بخراسان من يفتي به من بعض أصحابنا.وعن البويطي أن الشافعي قال: في الاعتكاف يعتكف عنه وليه. وفي رواية يطعم عنه وليه. وإذا قلنا الاطعام في الاعتكاف: فالقدر المقابل بالمد: اعتكاف يوم بليلته، هكذا حكاه الامام عن رواية شيخه وأصلها: وهو مشكل - فإن اعتكاف لحظة عبادة تامة، وإن قيس على الصوم فالليل ثم خارج عن الاعتبار.اهــ.بتصرف.

3. Tuhfatul Muhtaj jilid 3 hal 482 Cet. Dar Fikr


(ولو مات وعليه صلاة أو اعتكاف لم يفعل عنه ولا فدية) تجزئ عنه لعدم ورود ذلك (وفي الاعتكاف قول) إنه يفعل عنه كالصوم (والله أعلم) وفي الصلاة أيضا قول: إنها تفعل عنه أوصى بها أم لا حكاه العبادي عن الشافعي وغيره عن إسحاق وعطاء لخبر فيه لكنه معلول بل نقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي أي: إن خلف تركة أن يصلي عنه كالصوم ووجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا واختار جمع من محققي المتأخرين الأول وفعل به السبكي عن بعض أقاربه وبما تقرر يعلم أن نقل جمع شافعية وغيرهم الإجماع على المنع المراد به إجماع الأكثر وقد تفعل هي والاعتكاف عن ميت كركعتي الطواف فإنها تفعل عنه تبعا للحج وكما لو نذر أن يعتكف صائما فمات فيعتكف الولي أو ما دونه عنه صائما.


(قوله أنها تفعل) أي: جاز للولي ولغيره بإذنه أن يفعلها عن الميت (قوله حكاه العبادي عن الشافعي إلخ) واختاره ابن دقيق العيد والسبكي ومال إلى ترجيحه ابن أبي عصرون وغيره ونقل الأذرعي عن شرح التنبيه للمحب الطبري أنه يصل للميت ثواب كل عبادة تفعل عنه واجبة كانت أو متطوعا عنه انتهى وكتب الحنفية ناصة على أن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة أو صوما أو صدقة وفي شرح المختار لمؤلفه منهم مذهب أهل السنة والجماعة أن للإنسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله وعليه فلا يبعد أنه له الصلاة وغيرها عنه وصح في البخاري عن ابن عمر - رضي الله تعالى عنهما - أنه أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلي عنها والظاهر أنه لا يقوله إلا توقيفا إيعاب.

(قوله أن يصلي إلخ) يظهر أن المراد بنفسه أو مأذونه بأجرة أو متبرعا وأن المراد بالولي هنا مطلق القريب نظير ما مر في الصوم فليراجع.

(قوله ووجه إلخ) عطف على قوله قول إلخ أي: وجه قائل بأنه يجوز للولي أن يطعم إلخ وقياس ما مر في الصوم عن شيخنا وغيره أن للأجنبي ولو من غير إذن الولي الإطعام من ماله عن الميت.

(قوله الأول) أي: أن الصلاة تفعل عنه ع ش وكردي.

(قوله وفعل به السبكي إلخ) عبارته في الإيعاب قال ابن أبي عصرون ليس في الحديث ولا القياس ما يمنع وصول ثواب الصلاة للميت وروي فيها أخبار غير مشهورة واستظهر السبكي ما قاله لحديث مرسل «من بر الوالدين أن تصلي لهما مع صلاتك» قيل تدعو لهما ولا مانع من حمله على ظاهره قال ومات لي قريب عليه خمس صلوات ففعلتها عنه قياسا على الصوم اهـ.

(قوله عن بعض أقاربه) عبارة شيخنا في أمه اهـ.

4. Fiqh Islam wa Adillatuh


إسقاط الصلاة والصوم وغيرهما عن المريض العاجز الذي مات :

قال الحنفية : إذا مات المريض الذي عجز في الحياة عن الصلاة بالإيماء برأسه، لا يلزمه الإيصاء بها، وإن قلت.

وكذا المسافر والمريض إن أفطرا في الصوم، وماتا قبل الإقامة والصحة، فلا يلزمهما الإيصاء به. لكن تكون الوصية مستحبة بفدية الصلاة والصيام ونحوها.

ومن مات وعليه صلوات فائتة بغير عذر بأن كان يقدر على أدائها ولو بالإيماء، فيلزمه الإيصاء بالكفارة عنها، وإلا فلا يلزمه وإن قلّت بأن كانت دون ست صلوات، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «فإن لم يستطع فالله أحق بقبول العذر منه» .

وكذلك من أفطر في رمضان ولو بغير عذر، يلزمه الوصية بفدية ما عليه بما قدر عليه، ويبقى في ذمته، ويخرجه عنه وليه من ثلث تركته. وللولي التبرع بالفدية إن لم يوص أو لم يترك مالاً.

ومقدار الكفارة عن الصلاة ومنها الوتر عند الحنفية، والصوم: أن يعطى لكل صلاة وصوم يوم نصف صاع من بُرّ (ربع مد دمشقي من غير تكريم، بل قدر مَسْحة)، كفطرة الصيام لكل من الصلاة والصوم على حدة، وتقدر بـ 1087,5غم.

وتؤخذ الكفارة وفدية الصوم: من ثلث مال المتوفى. فإن لم يكن له مال يستقرض وارثه نصف صاع مثلاً، ويهبه للفقير، ثم يهبه الفقير لولي الميت ويقبضه، ثم يدفعه الولي للفقير، فيسقط من الصلاة والصوم بقدره ، وهكذا حتى يتم إسقاط ما كان عليه من صلاة وصوم.

لكن يلاحظ أن مثل هذه الحيلة غير مقبولة؛ لأن الصلاة عبادة بدنية، ولا تسقطها شكليات فارغة وطقوس جوفاء.

ويجوز إعطاء فدية صلوات لواحد جملة، بخلاف كفارة اليمين، كما يجوز إعطاء الفقير أقل من نصف صاع. ولا يصح للمرء في حال حياته أن يفدي عن صلاته في مرضه، فلا فدية في الصلاة حال الحياة بخلاف الصوم فإنه يجوز بل تجب الفدية عنه. ولا يجوز للورثة قضاء الصلاة عن الميت بأمره؛ لأن الصلاة عبادة بدنية شخصية، بخلاف الحج فإنه يقبل النيابة.

5. Hasyiah Qalyuby `ala Syarah Mahally jilid 2 hal 86 Cet. Dar Fikr

قوله: (وفي الاعتكاف قول) وفي الصلاة قول أيضا وفيها وجه أنه يطعم عنه لكل صلاة مد قال بعض مشايخنا: وهذا من عمل الشخص لنفسه فيجوز

تقليده لأنه من مقابل الأصح نعم يصلي أجيرا لحج ركعتي الطواف

1.Ashah: istilah yang digunakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Minhaj untuk menandakan satu pendapat kuat yang dikeluarkan oleh Ashabil Wujuh yang memiliki muqabil yang juga kuat dalilnya.(lihat Muqaddimah syarah Minhaj)

Sunday, 22 May 2016

7 Hal Yang Suamimu Tidak Akan Mengatakannya Padamu,Istri !


7 Hal Suamimu Tidak Akan Mengatakan Padamu

Pernahkah anda berharap dapat membaca pikiran suamimu ?
Kebanyakan didalam kebudayaan Islam,pria dibesarkan dengan menjadi seseorang yg kuat menahan nafsunya dan “berbibir rapat”.Suami-suami islam sangatlah sering (tidak selalu) enggan untuk membicarakan tentang beberapa hal kepada istrinya.Satu-satunya hal yg sangat sulit daripada menerjemahkan pikiran kedalam kata-kata adalah menerjemahkan “perasaan kedalam kata-kata”.
Jadi , kebanyakan pasangan suami istri muslim menjalani kehidupan pernikahan mereka dengan kurang komunikasi dan tidak pernah benar-benar saling mengetahui apa yg ada dalam pikiran satu sama lain.
Berikut daftar singkat untuk saudari-saudari muslimah yg sudah menikah (yg mau menikah juga boleh J).Daftar berikut akan memberikanmu sedikit pencerahan akan beberapa hal tentang apa yg suamimu pikiran , tapi hanya saja mungkin dia tidak tahu bagaimana , atau mau , untuk memberitahukan pada anda.
1.      Terlepas dari semua hal , dia(suamimu) mengharapkan rasa hormat (patuh) mu

Merupakan salah satu hal yg sangat penting untuk wanita muslimah memahami nilai-nilai akan menghormati pria (suami),khususnya pria Islam.Dalam Islam, pria sejak kecil diajarkan untuk menjadi pemimpin keluarganya.
Anda bisa membayangkan bagaimana frustrasi jadinya bagi pria,yg berusaha sekuat tenaganya ,terbaik darinya untuk melindungi keluarganya,untuk menikahi seorang wanita yg tidak menghargai menghormatinya.Mungkin dia(istri) menyatakan bahwa dia mencintai suaminya,namun tanpa ada rasa hormat darinya (istri) , pada suatu saat cinta sang suami akan memudar untuk istrinya.

Lihat ayat ALLAH berikut :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang anda khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah anda mencari-cari jalan untuk menyusahkannya . Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (An-Nisa: 34)

2.      Suamimu menghasratkan loyalitas (kesetiaan) mu

Tidak ada yg menghancurkan sebuah ikatan pernikahan lebih cepat daripada gagasan bahwa pasanganmu tidak setia padamu.Gagasan , bahwa dia(suami/istri) tidak lagi melekat/ragu-ragu denganmu.Kita tidak mebicarakan tentang perceraian.Inilah apa yang sering terlintang di pikiran ketika orang-orang berbicara tentang kesetiaan didalam pernikahan.Apa yang kita bicarakan ialah mengetahui bahwa seseorang yang telah kita pilih untuk menghabiskan sisa waktu didalam hidup akan ada disana ketika anda benar-benar membutuhkan mereka.

Kebanyakan pria dan wanita tidak mengakuinya , namun kita benar-benar membutuhkan wanita dan kita benar-benar membutuhkan dukunganmu.Dan itu sangatlah bermasalah untuk menikahi seorang wanita yg mungkin saja tidak akan ada disampingmu ketika semuanya mulai sukar.Jika anda terus menerus membahas,meminta,mengancam perpisahan/perceraian atau khulu’ (perceraian didalam islam yang diprakarsai oleh istri),anda bisa menunggu ikatan pernikahanmu akan semakin melemah secepatnya.

Suamimu perlu tahu jika anda akan ada disisinya jika :

  • Dia(suami) kehilangan kerjaan dan keuangan menyempit
  • Dia mencoba melakukan sesuatu (seperti memulai sebuah bisnis atau kembali kesekolah)
  • Nama baik nya ternodai atau kehormatannya tercela

Anda harus setia pada suamimu sebelum sesuatu yang lainnya kecuali pada Allah dan Rasul-Nya.Jika anda setia pada suamimu, maka selebihnya yakin dia akan setia padamu , insya Allah.

3.      Suamimu ingin “berhubungan badan”  lebih sering

Baiklah , mari saling jujur dan terbuka.Sebagian wanita mungkin berpikiran pria itu “si biadab berpikiran sempit” akan hal ini , namun itu benar.Pria memang menghasratkan sex.

Jadi disaat anda beralasan kepadanya dengan alasan-alasan :

  • “ Aku lagi pusing “
  • “Aku lagi tidak enak badan”
  • “Tidak bisa tunggu sampai akhir pekan?aku lagi benar-benar tidak mood”

Ketahuilah bahwa suamimu pergi tidur dengan keadaan sedikit kecewa/marah padamu,bahkan jika sekalipun dia tidak menunjukkan padamu.Teruslah seperti ini maka dia akan mulai membencimu.Dan kebencian tersebut akan mulai menumbuhkan dan bisa membawa dia berpikiran tidak memerlukan anda atau kehilangan rasa cinta/sayang.

Perhatikan hadis berikut :
Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

4.      Dia(suami) berpikir tentang wanita lain
Baiklah ,pertama-tama,tenang dulu.Jangan beranjak dulu.Biar kita membahas nya.
“Semua pria memikirkan wanita lain”

  • Ini tidak berarti dia akan menghianatimu
  • Ini tidak berarti dia berpikiran tentang mengambil istri kedua
  • Ini tidak berarti dia “berfantasi” tentang wanita lain

Hanya saja ini berarti bahwa semua pria (normal) memang berpikiran begitu.Pada suatu titik dalam hidupnya, ingin mempunyai wanita lain (i.e.istri).
Anda lebih baik berdamai dengan ini dan menerima daripada anda berpura-pura,menyalahkan pria.Cara terbaik untuk menghadapi pemikiran-pemikiran ini ialah mulai menerapkan nasehat yg akan diberikan dalam 3 rahasia :

  • Hormati dia(suami)
  • Setia padanya
  • Berikan dia “cinta secara fisik” ketika dia menginkannya

Apakah ini berati dia tidak akan pernah mengambil istri kedua jika kamu menerapkan ketiga-tiga nya ? Tentu saja tidak.Namun ini relatif akan meningkatkan penilaiannya terhadap kamu  daripada wanita lain dan dia akan akan lebih enggan untuk mencari tiga hal tersebut (hormat,setia dan sex) di tempat lain.

5.      Dia(suami) ingin membuat mu bahagia

  • Kamu pikir kenapa pria kerja keras mati-matian untuk membuat uang ?
  • Kamu pikir kenapa pria mau meniggalkan pekerjaannya dan mengambil resiko memulai sebuah bisnis?
  • Kamu pikir kenapa pria suka membeli hadiah untuk wanita ?

Karena jauh didalam lubuk hati , pria benar-benar hanya ingin membuatmu bahagia.
Terkadang “kami” mengacaukan itu semua dan melupakan perayaan ulang tahun kita.Namun kami benar-benar lebih memilih untuk mengingat karena kami tahu itu akan membuatmu senang.
Jadi,ketika suamimu membelikanmu sebuah hadiah ,terimalah,bersuka cita lah,berterimakasihlah dengan sedalam-dalamnya dan sering-seringlah menggunakannya.

  • Jika dia membelikanmu perhiasan,kenakanlah
  • Jika dia membelikanmu smartphone,gunakan
  • Jika dia membelikanmu mobil,pakaikan

Dan jangan terlalu cepat mengomeli dia atas suatu hal yang tidak dikerjakannya dengan baik.Karena dia akan mulai merasakan kamu tidak menghargai (nah,kata itu lagi) akan hal-hal yg dia lakukan untukmu.

6.      Jika kamu mendorongnya, dia(suami) akan menjadi muslim yg lebih baik

Tidak ada yg sempurna.Mungkin suami kamu bukanlah seorang ulama islam.Mungkin dia bukan muslim terbaik didunia.Kamu bisa mendorongnya untuk membuat dia lebih baik.Tapi kamu tidak bisa memaksakannya.

Lakukan hal-hal kecil untuk membuat islamnya lebih baik

  • Tawarkan dia untuk membangungkannya untuk shalat subuh
  • Dorong dia untuk shalat di mesjid
  • Katakan padanya betapa jauh lebih baik ia akan terlihat jika ia menumbuhkan jenggotnya.

Ini membutuhkan kalimat-kalimat yang tidak tegesa-gesa(kesan memaksa) , sentuhan yang lembut , tindakan yang penuh kehati-hatian, kamu akan mendapatkan pahala ganda :
Pahala kehidupan dengan suami yg budiman dan pahala kehidupan selanjutnya untuk mendorong suamimu pada kebenaran.

7.      Dia(suami) mencintaimu, bahkan walaupun dia tidak menampakkannya padamu selalu

Mungkin yang satu ini memang sulit untuk mempercayainya bulat-bulat.Namun itu benar (biasanya).
Pria hanya saja tidak sebagus itu dalam hal menunjukkan dan memperlihatkan “emosi” (terkecuali “kami” membicarakan tentang politik atau olahraga).
“Kami” tidak mengatakan “Aku Cinta Kamu” cukup sering memang.

Kami tidak sempurna.Dan apalagi jika dibanding dengan Rasulullah (SAW) malah akan lebih memperunyam.Tentu saja , kami seharusnya meniru beliau (SAW) sebisa mungkin.Dan bagi sebagian kami, kami melakukan yang terbaik dari kami.

Namun tetap saja kami tidak akan bisa memperlakukan “sama” dengan yang beliau (SAW) lakukan terhadap istri beliau.Sama dengan tidak adil bagi laki-laki mengharapkan istri mereka bertingkah seperti Aisyah (RA) dan istri-istri beliau (SAW) yang lain.

Hanya Karena suamimu tidak memperlakukan kamu dengan cara tersebut (cara Rasulullah),bukan berarti suamimu tidak mencintaimu.

Hanya saja dia(suami) itu manusia.Sangatlah penting kamu memahami :

  • Bahwa suamimu melakukan yang terbaik untuk merawatmu
  • Bahwa ia tulus untuk mencoba membantu memecahkan masalah anda dan membantu anda sebaik yang dia bisa
  • Maka kemungkinan ia mencintaimu , Sangat !

Nah , sekarang pergi dari depan Tv dan buatkan aku sandwich... hahahaha

Saturday, 21 May 2016

31 Fitur di Photoshop CC Yang Tidak Ada Di Pendahulu-Pendahulunya


Photoshop CC (14.0) dirilis pertama kali pada tanggal 17 Juni 2013 untuk dengan Codename " Lucky 7 " yang tentunya bisa berjalan di sistem operasi Mac OS X , Windows 7 atau yg terbaru dengan penambahan-penambahan fitur terbaru yg tidak terdapat pada photoshop-photoshop pendahulunya (cs6 dan kebawah).Seperti, improved 3d painting , Camera RAW as filter , Editable rounded rectangle.
Nah , dibawah ini saya akan membahas fitur-fitur terbaru Photoshop CC yang terbaru atau keluaran tahun 2016 ...Yuk Kita Cek Di Bawah

1.  Creative Cloud Libraries including Linked Assets
2.  Artboards      
3.  Integration with Adobe Stock              
4.  New asset export           
5.  Multiple instances of layer styles              
6.  Device Preview and Adobe Preview CC companion app               
7.  Glyph panel           
8.  Real-time Healing Brush          
9.  Content-Aware Move and Content-Aware Extend with scaling and rotation              
10. Automatic Content-Aware Fill for stitched panoramic images              
11. Guide set creation and presets               
12. Linked Smart Objects                       
13. Improved Layer Comps                       
14. Blur Gallery motion effects and additive noise                           
15. Focus Mask                  
16. Smarter Smart Guides                       
17. Desktop fonts from Adobe Typekit                      
19. 3D Printing support                       
20. Font Search and instant font preview                       
21. Improved Windows 8.1 touch and stylus support                       
22. Windows HiDPI support                      
23. Mercury Graphics Engine performance boosts in Healing Brush, Smart Sharpen and upsampling   24. Technology previews including Design Space (Preview), English only                       
25  Perspective Warp                       
26. Adobe Generator                       
27. All-new Smart Sharpen                       
28. Camera Shake Reduction                           
29. Adobe Camera Raw 9 and Camera Raw as a filter                      
30. Extended features included                       
31. Workflow time-savers
 
Semua fitur yg disebut diatas merupakan fitur-fitur terbaru dan juga perbaikan/peningkatan dari fitur-fitur photoshop-photoshop pendahulunya.

ISTIDRAJ ( Maksiat Jalan Terus Rezeki Lancar Terus )



MAKSIAT JALAN TERUS, TAPI REZEKI LANCAR ?
 
Belum tentu orang yang diluaskan rezekinya, ia berarti dimuliakan. Sebaliknya orang yang disempitkan rezekinya, belum tentu ia dihinakan.
 
Kita tidak bingung kenapa ada diantara mereka yang gemar bermaksiat dan melakukan mungkarat (hal-hal yang dibenci Allah), tapi rezekinya lancar, pendukungnya banyak, bisnisnya dimana-dimana, intinya soal urusan dunia seakan tidak masalah baginya.

Tapi yang kita bingungkan kenapa muslim, tidak dengki untuk mengikuti saudaranya, muslim yang tetap istiqamah dalam ibadah dan munajat, walaupun kehidupan ekonominya serba kekurangan. (inilah keimanan yang patut ditiru).

Kelebihan diatas sudah dijelaskan, seperti istidraj dalam islam.
Istidraj adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Jadi ketahuilah bahwa, ketika Allah membiarkan kita :
 1. Sengaja meninggalkan shalat.
 2. Sengaja meninggalkan puasa.
 3. Tidak ada perasaan berdosa ketika bermaksiat dan membuka aurat.
 4. Berat untuk bershadaqah.
 5. Merasa bangga dengan apa yang dimiliki.
 6. Mengabaikan semua atau mungkin sebagian perintah Allah.
 7. Menganggap enteng perintah- perintah Allah.
 8. Merasa umurnya panjang dan menunda-nunda taubat.
 9. Tidak mau menuntut ilmu syar’i.
 10. Tidak mendapatkan cinta kepada Rasulullah.
 11. Punya Handphone (media seluller) apapun, internet tapi tidak bisa berdakwah / menggunakannya supaya bermanfaat.
 10. Lupa akan kematian.

Tetapi Allah tetap memberikan kita :
 1. Harta yang berlimpah.
 2. Kesenangan terus menerus.
 3. Dikagumi dan dipuja puji banyak orang.
 4. Tidak pernah diberikan sakit.
 5. Tidak pernah diberikan musibah.
 6. Hidupnya aman-aman saja.

Hati-hati karena semuanya itu adalah istidraj. Ini merupakan bentuk kesengajaan dan pembiaran yang dilakukan Allah pada hamba-Nya yang sengaja berpaling dari perintah-perintah Allah, Allah menunda segala bentuk adzab-Nya.

Allah membiarkan hamba tersebut semakin lalai dan semakin diperbudak dunia, Allah membuatnya lupa pada kematian.

Jangan dulu merasa aman, nyaman, tentram dengan hidup kita saat ini, seolah hidup kita penuh berkah dari Allah, lihat diri kita.

Bila semua kesenangan yang Allah titipkan tapi justru membuat kita semakin jauh dari Allah dan melupakan segala perintah-perintah-Nya, bersiaplah untuk menantikan konsekuensinya, karena janji Allah itu Maha Benar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44. HR. Ahmad).

Dengan Ilmu Hidup Lebih Bercahaya



DENGAN ILMU HIDUP LEBIH BERCAHAYA DAN MEMUDAHKAN LANGKAH KE SURGA
 ____________________________
 Orang shaleh mengatakan, “Sesungguhnya ilmu adalah kehidupan dan cahaya. Sedangkan, kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Semua keburukan penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan (hati) dan cahaya. Semua kebaikan sebabnya adalah cahaya dan kehidupan (hati). Sebaliknya, kebodohan dan keburukan yang disebabkan oleh kematian hati dan tidak takutnya kepada yang buruk. Ini seperti kehidupan di mana hujan adalah sebab kehidupan segala sesuatu.

Allah berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْشَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang becahaya seperti mutiara yang dinyalakan di dalamnya dengan minyak dan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah (barat)nya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (belapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. an-Nuur: 35).

 Dan buah dari ilmu adalah cahaya, yang dengan cahaya itu Allah menerangi kita kepada jalan-Nya yang lurus, jalan yang menuntun kita kepada kebahagiaan iman dan Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R Muslim).

Beberapa Hadits Mengenai Keutamaan Ilmu Dan Ulama


قال النبي صلى الله عليه وسلم لإبن مسعود رضي الله عنه يا ابن مسعود جلوسك ساعة في مجلس العلم لا تمس قلما ولا تكتب حرفا خير لك من عتق ألف رقبة ونظرك إلى وجه العالم خير لك من ألف فرس تصدقت بها في سبيل الله وسلامك على العالم خير لك من عبادة ألف سنة

 
Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Ibnu Mas`ud.ra : “Ya Ibnu Mas`ud, dudukmu (walaupun) sebentar di majlis ilmu, walaupun tanpa memegang pena dan menulis satu hurufpun adalah lebih bagus daripada memerdekakan 1000 raqabah (budak), pandanganmu terhadap orang alim lebih bagus daripada 1000 kuda yang kamu sedekahkan di jalan Allah (sabilillah), salam-mu kepada orang alim lebih bagus daripada ibadah 1000 tahun.”

قال صلى الله عليه وسلم : فقيه واحد متورع أشد على الشيطان من ألف عابد مجتهد جاهل ورع

 
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Satu orang  faqih (tahu hukum syariah) yang ahli wira`i (menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang syariah), bagi syaitan itu lebih berat daripada 1000 ahli ibadah yang bodoh, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan ahli wira`i.”

قال صلى الله عليه وسلم : فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Keutamaan orang `alim (yang mengamalkan ilmunya) mengalahkan `abid (ahli ibadah) adalah bagaikan rembulan (bulan purnama) yangmengalahkan semua bintang-bintang.”

قال صلى الله عليه وسلم : من انتقل ليتعلم علما غفر له قبل أن يخطو

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa berpindah tempat untuk menuntut ilmu (syariat) maka dosanya diampuni sebelum dia melangkah.

قال صلى الله عليه وسلم : أكرموا العلماء فإنهم عند الله كرماء مكرمون

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Muliakanlah para ulama karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang mulia yang dimuliakan di sisi Allah SWT.”

قال صلى الله عليه وسلم : من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفر له إلى يوم القيامة

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa setelah melihat wajah orang alim merasa bahagia, walaupun hanya sekali lihat saja, maka Allah SWT meciptakan dari pendangan tersebut seorang malaikat yang akan memintakan ampunan bagi orang tersebut hingga hari kiamat.”

قال النبي صلى الله عليه وسلم : من أكرم عالم فقد أكرمني ، أى لأنه حبيبى ، ومن أكرمني فقد أكرم الله ، أى لأنى حبيبه ، ومن أكرم الله فمأواه الجنة ، أى لأنها محال سكنى أحباء الله تعالى

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa memuliakan orang alim maka dia benar-benar telah memuliakanku dan barang siapa memuliakanku maka dia benar-benar telah memuliakan Allah dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.”

قال النبى صلى الله عليه وسلم : نوم العالم أفضل من عبادة الجاهل ، أى نوم العالم الذى يراعى آداب العلم أفضل من عبادة الجاهل الذى لا يعلم آداب العبادة

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidurnya orang alim lebih utama daripada ibadahnya orang bodoh.”

قال النبى صلى الله عليه وسلم : من تعلم بابا من العلم يعمل به أو لم يعمل به كان أفضل من أن يصلى ألف ركعة تطوعا

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa mempelajari satu bab ilmu (saja), baik diamalkan maupun tidak, maka itu saja sudah lebih baik daripada shalat sunat 1000 raka`at.”

قال النبى صلى الله عليه وسلم : من زار عالما فكأنما زارني ومن صافح عالما فكأنما صافحني ومن جالس عالما فكأنما جالسني فى الدنيا ومن جالسني فى الدنيا أجلسته معي يوم القيامة

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa berkunjung (atau berziarah) kepada orang alim maka dia seperti mengunjungiku, barang siapa bersalaman dengan orang alim maka dia seperti menyalamiku, barang siapa duduk bersama orang alim maka dia seperti duduk bersamaku di dunia, barang siapa duduk bersamaku di dunia maka aku akan mendudukannya bersamaku di hari kiamat.”
Allahu A’lam.